MENURUT Muhammad
Iqbal, Al Quran secara umum bertujuan hendak menyadarkan manusia tentang adanya
kesadaran bathin manusia yang lebih tinggi untuk berhubungan dengan Allah.
Kesadaran bathin ini dalam sejarah filsafat agama telah menjadi objek telaah
terus-menurus dalam suatu thema yang disebut pengalaman beragama, yaitu suatu
pengalaman yang terjadi di ruang sebelah dalam bathin psikologis di mana
manusia dapat mengembangkan suatu pusat kekuatan sedemikian rupa sehingga
kebebasannya dapat bertumbuh secara penuh berhubungan langsung dengan pusat
semesta yang dalam bahasa teologis disebut Allah.
Seperti laiknya,
rasionalitas manusia yang Immanuel Kant sebutkan bersifat a priori demikian
halnya dengan ruang sebelah dalam bathin psikologis adalah merupakan struktur a
priori terhadap sesuatu yang irrasional yangmemungkinkan manusia meraih
kesadaran beragama. Kesadaran tersebut adalah kepekaan terhadap yang kudus.
Atas dasar kesadaran beragama inilah manusia dapat mengalami hal-hal duniawi
sebagai petunjuk dari Illahi.
Di tingkat
puncak pengalaman yangkudus ini dapat diisi dengan ide tentang Allah yang dalam
strukturnya bersifat formal sehingga dengan cara ini manusia secara intuitif
dan efektif mampu melihat misteri Illahi melalui penampakan simbol-simbol
duniawi. Hal ini dapat dicontohkan bagaimana Nabi Ibrahami AS mengalami suatu
pengalaman religus dengan melihat secara rohani kedahsyaratan matahari,
rembulan dan semestra alam ketika ia sedang mencari Allah.
Atas dasar
struktur a priori pengalaman beragama adalah dasar dari segala kegiatan rohani
manusia yang dapat muncul dalam bentuk kerja-kerja kreatif, agama, filsafat,
ilmu seni, cinta dan hubungan antar manusia.
Secara
fenomenologis, struktur pengalaman beragama bersifat tergantung, karena itu
agama sering didefinisikan sebagai the feeling of defence (perasaan
ketergantungan) yang muncul karena perasaan keterciptaan, di mana manusia
mengalami bahwa ia hilang dalam ketiadaan yang dialami secara objektif. Oleh
karena itu pengalaman beragama merupakan suatu pernyataan diri.
Pada pengalaman
beragama manusia mengalami suatu perasaan yang disebut misterium tremendum
yakni bahwa pengalaman beragama itu menakutkan dan mengalami perasaan yang
disebut misterium fascinosium yakni suatu perasaan terpesona, terpana dan
terpikat. Kedua perasaan ini dapat dialami manusia puncaknya yang tertinggi,
yaitu suatu keadaan ekstase dalam pengalaman mistik keagamaan.
Dari
banyak-banyak karya mistik keagamaan yang berhubungan dengan manusia memberikan
bukti bahwa pengalaman beragama sangat kuat dan berpengaruh besar dalam
kehidupan manusia. Kenyataan ini dapat menjadi bukti untuk menolak
argumentasi Felisback atau Sigmund Freud yang beranggapan bahwa pengalaman
beragama yang sudah dialami manusia beradab-abad hanyalah pengalaman ilusi
manusia atas ketidakberdayaannya. Karena itu Muhammad Iqbal mengatakan
pengalaman beragama bukanlah sesuatu yangbersifat khayal dan oleh sebab itu
tidak mempunyai isis kognitif, namun pengalaman beragama adalah mempunyai
makna.
Dalam tradisi
skolastik yang banyak mempengaruhi pemikiran filsafat mistik Islam, Memberikan
makna pengalaman beragama senantiasa terkait pengenalan diri di mana pengalaman
beragama merupakan puncak dari pengenalan diri. Pengenalan diri adalah seni
kehidupan dalam beragama, seni tertinggi yang akan membawa manusia kepada
kecerahan yang berasal dari diri yang teringgi yakni Allah.
Ditinjau
darisudut fisafat, perbincangan tentang pengalaman beragama sesungguhnya
merupakan pembicaraan tentang cara menuju Allah atau dengan kata lain disebut
juga dengan suatu usaha untuk mengerti adanya Allah yang termasuk dalam bidang
metafisika.
Dalam metafisika
ada empat cara untuk mengerti eksistensi Allah, yakni melalui finalitas di
dalam kosmos, jalan melalui roh manusia dan jalan melalui pandangan bahwa Allah
sebagai nilai mutlak serta jalan argumentasi ontologis.
Namun demikian
Muhammad Iqbal tidak menyetujui jalan-jalan tersebut dengan mengemukakan
pandangan bahwa situasi manusia tidaklah final dan bahwa pikiran dengan
realitas merupakan kesatuan tak terpisahkan yang kesemuanya berdasarkan
pengalaman manusia.
Menurut Muhammad
Iqbal, pengalaman manusia itu berlangsung dalam waktu dan ruang serta mempunyai
tiga tingkatan yakni materi, pikiran dan kesadaran di mana ketiga hal tersebut
berlandaskan spiritual. Berdasarkan sifat spiritual pengalaman manusia inilah
maka dikatakan Iqbal bahwa semakin seseorang mengalami pengalaman beragama maka
semakin ia mengalami kebebasan, dan semakin mengalami pengalaman beragama maka
semakin ia mengalami kebebasan, dan semakin orang tersebut mengalami kebebasan,
maka semakin ia mengalami keadaan bersatu dengan usaha kreatif yang berasal
dari Allah.
Usaha kreatif
tersebut dalam persepektif Bergson disebut Elan Vital. Hal inilah yang
mewujudkan evolusi kreatif semesta alam, karena itu alam dalam pandangan ini
bukanlah benda-benda objektif melainkan suatu rangkaian kegiatan. Realitas
merupakan suatu dorongan yang bersifat hidup dan kreatif dan tidak dapat
diramalkan oleh pikiran yang mengacu pada benda-benda objektif, tetapi hanya
dapat dipahami kuat intelektualitas berdasarkan intiusi.
Al
Quran surat 25 ayat 26 menyatakan bahwa : " Dialah yang
menjadikan siang dan malam silih berganti, bagi siapa yang berkemauan mengingat
atau keinginan bersyukur...".
Ayat ini
menunjukkan bahwa suatu realitas hakiki berhubungan dengan perlangsungan waktu
murni, dengan pikiran dan tujuan yang membentuk suatu kesatuan organik yang
disebut oleh Iqbal dengan istilah Kesatuan Ego, yangmenjadi sumber semua
kehidupan dan pikiran individu. Iqbal mengatakan bahwa berada dalam perlangsungan
waktu murni berarti suatu ego, dan menjadi suatu ego berarti dapat menyatakan
"aku". Yang dimaksud Iqbal adalah puncak pengalaman beragama terjadi
dimana aku bersatu dengan Aku Hakiki yang merupakan asal dari diriku.
Oleh karena itu,
waktu adalah unsur yang esensial dari realitas yang sesungguhnya. Kalau kita
mengatakan ada waktu sebagai momen sambung-menyambung (waktu temporer yang kita
alami), maka di balik itu sebenarnya ada waktu hakiki. Inilah ego yang mutlak
dengan wataknya tidak berada dalam perubahan secara berganti, namun terlibat
dalam usaha penciptaan yang terus menerus, sebagai evoluasi kreatif dari ego
itu sendiri, inilah merupakan realitas terakhir, sebagai suatu kehidupan
kreatif yang terarah secara rasional kodrat dari realitas ini adalah rohani.
Dengan demikian,
mengalami dan terlibat dalam evoluasi kreatif ego adalah tempat dari makna
pengalaman beragama. Dalam Islam hal tersebut terwujud dalam
simbolisme sholat dan zikir. Sholat dan Zikir adalah pernyataan kerinduan
bathin manusia untuk mendapat jawaban atas hakikat hidup dan sebagai penghubung
diri sebagai ego dengan ego yang mutlak.
tolong cantumkan referensi
BalasHapus